DZIKIR JIWA DAN IMPLEMENTASI
December 10, 2005Seluruh anak cucu bani Adam pada dasarnya diciptakan Allah
pada kondisi yang sama yaitu dalam keadaan putih dan Islam.
kita tidak akan diturunkan kedunia dari alam ruh sebelum kita
berikrar tunduk, patuh kepada Allah SWT.
Seiring perjalanan waktu, lahir, kanak-kanak, remaja, dewasa,
tua dan kembali kepada-Nya, ditengah situasi dan kondisi dan
lingkungan yang berbeda-beda kita bisa berubah menjadi
yahudi, nasrani, majusi, dsb.
Dalam perjalanan hidup tanpa disadari sedikit demi sedikit
kita terseret kepada situasi yang mempertuhankan duniawi,
melupakan Allah dengan kata lain dunia satu Allah nomor dua.
Pada situasi ini diri kita lahir bathin yang tadinya putih
bersih mulai ternoda akibat wudhu perbuatan kita sendiri yang
melanggar apa yang dilarang Allah. Kita baru menyadari
setelah ditengah perjalanan, dan menyaksikan hasil yang
diperoleh hanyalah kesengsaraan, kegelisahan, tidak ada
ketenangan dan kebangkrutan. Permasalahan mulai timbul ketika
kebingungan mencari jalan memperbaiki diri dan kembali.
Tindak tanduk wudhu perbuatan adalah aplikasi dari kondisi
ruhani. Ruhani pusatnya adalah hati,dimana hati yang bersih
berarti ruhani / jiwanya bersih. Hati yang putih bersih
adalah hati yang senantiasa dibiasi oleh nur/rahmat Allah.
Wudhu perbuatan sehari-hari yang bersumber dari hati bersih
inilah merupakan puncak EMOTIONAL SPRITUAL QUOTIENT /
KECERDASAN EMOSIONAL DAN SPRITUAL dan ini merupakan
implementasi dan Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 285,
sami’naa wa atha’naa
Bagaimana membersihkan hati ? tiada lain dengan dizikir jiwa
/ qalby, karena dzikirlah pembersih hati. Dzikir jiwa berarti
jiwa kita yang berdzikir bukan hanya dilisan atau lapaz saja
namun seluruh tubuh kita sampai sel-sel darah / saraf yang
paling halus seperti yang tercantum dalam firman Allah, surat
Al-Isra 44.
“tujuh lapis langit dan bumi dengan segala isinya semuanya
memuja Allah. Tiada satupun kecualinya, semua memuja
dengan pengagungan kepada-Nya. Tetapi kamu sekalipun tidak
mengerti pujaan mereka itu. Sesungguhnya Dia Maha
Penyantun dan Pengampun”.
Kapan dan dimana kita berdzikir / ingat kepada Allah ?
Berdzikir / mengingat Allah tiada mengenal tempat/ruang dan
waktu dari pagi hingga petang. Kenapa demikian ? karena tiada
satupun hamba Allah yang dijamin maksum oleh-Nya selain
Rasulullah. Sedangkan kita selalu penuh alpa, lengah, lalai
dan iblis / syathan sangatlah ahli dalam memanfaatkan
kelemahan sifat manusia serta tidak pernah lelah dari waktu
ke waktu berusaha menambah pengikutnya. Oleh karena itulah
Allah SWT sudah memberi tuntutan dalam firman Na, surat Al -
A’raaf 205.
“dan sebutlah nama Tuhanmu dalam hati dengan khidmat dan
penuh rasa takut dengan suara sedikit rendah, tidak
keras melengking diwaktu pagi dan petang. Dan janganlah
engkau termasuk orang-orang yang lalai.”
Dan Rasulullah telah mencontohkan dalam wudhu perbuatannya,
minimal 70 kali dalam sehari beliau memohon ampun ke
khadirat-Nya.
Sudah barang tentu proses pembersihan jiwa ini satu sama lain
tidaklah sama, tergantung dari sejarah perjalanan hidup
masing-masing dan seberapa cepat kita diberi hidayah oleh
Allah. Namun janganlah menjadikan kita berkecil hati karena
sesungguhnya Allah telah berfirman dalam surat Al-Baqarah
155.
“dan sesungguhnya Kami akan menguji dengan sesuatu cobaan,
seperti ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan
buah-buahan. Namun gembirakanlah orang-orang yang sabar”.
dan dalam surat Al-Baqarah 45,
“Minta tolonglah kepada Allah dengan bersikap sabar dan
mengerjakan shalat. sesungguhnya shalat itu amat berat
dirasakan, kecuali bagi orang-orang yang khusuk”
Setelah secara perlahan hati / jiwa kita kembali ke fitrah
dimana penyakit-penyakit hati seperti riya’, takabur,
prasangka buruk, ingkar janji, fitnah, mempertuhankan hawa
nafsu, dll. Tidak ada lagi didalam hati/jiwa, maka hati kita
kini bagaikan selembar kertas yang putih bersih. Tanda-tanda
hati / jiwa yang bersih secara jelas tertulis dalam
firman-Nya surat Al-Anfal 23.
“Adapun orang-orang yang beriman itu, ialah mereka apabila
disebut nama Allah, terasa kecut hatinya dan apabila
dibacakan kepadanya ayat-ayat Nya, bertambah kuat imannya,
dan mereka bertawakal kepada Tuhannya”.
“Mereka tetap mengerjakan shalat dan menafkahkan sebagian
rezeki yang Kami anugrahkan kepada mereka”.
Tahapan berikutnya kita isi hati / jiwa dengan sifat-sifat
yang terpuji. dimana sifat-sifat terpuji ini bersumber dari
sifat-sifat Allah SWT yang sekaligus merupakan hakekat dari
kekuasaan-Nya dan tertera pada asma-asma-Nya.
Hasil dari dzikir jiwa ini terlihat secara nyata dalam
kehidupan sehari-hari, sebagai contoh
* Seseorang yang tadinya bertemprament tinggi dan tensi
darah yang tinggi setelah kontinu melakukan dzikir jiwa
dengan asma-Nya Ya Rahmaan Ya Rahim Ya Lathif dengan penuh
rasa hamba akan timbul sifat kasih sayang, lembut dan tensi
darah menjadi normal.
* Seseorang yang tadinya tidak dapat mengendalikan nafsu
syahwatnya, dengan kontinu mengagungkan Alah dengan asma-Nya
Ya Malikul Quddus, nafsu syahwatnya dapat terkendali.
Banyak sudah penelitian-penelitian ilmiah tentang manfaat
dari dzikir jiwa, antara lain,
* Penelitian oleh F.N Pits Jr dan J.N Mc. Lure Jr dari
Washingthon University Scholl di St Louis tahun 1967, dizikir
jiwa/relaxaxi berakibat konsumsi oxygen menurun dan produksi
alpha wave menurun. Ini berarti penurunan lactate darah,
suatu zat yang diproduksi oleh metabolisme urat sraf. Jadi
dzikir jiwa ini dapat menolong orang yang menderita tekanan
darah tinggi, rasa takut dan khawatir serta rasa sedih dan
bingung (psikosomatic)
* Penelitian oleh David R. Frew yang memuat dalam Academy
Of Management Journal 17 No. 2 tahun 1974 di Amerika Serikat
menyatakan bahwa terjadinya produktivitas yang sangat
meningkat terhadap orang yang menjalankan dzikir jiwa.
* Hasil dari fotographi yang memanfaatkan technologi
canggih KERLIAN FOTOGRAFI, dimana dapat dilihat nur atau yang
sekarang disebut aura dari seseorang. terdapat perbedaan yang
menyolok antara aura yang biasa berdizikir dengan yang tidak.
Jasa fotographi kini sudah bisa didapat di Jakarta.
Dari pemaparan diatas insya Allah semakin menambah keyakinan
dan keimanan kita bahwasanya kekuasaan Allah diatas
segala-galanya, tiada tempat bergantung, momohon kecuali
kepada Allah dan Al-Qur’an merupakan tuntunan jalan hidup
dari-Nya yang selalu relevan sampai akhir zaman.
